• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Kontributor
  • Kontak
  • Iklan & Kerjasama
Wednesday, April 8, 2026
Ruwajurainews.com
  • Budaya & Pariwisata
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hukum & Kriminal
  • Lampung Raya
  • Opini & Suara Publik
  • Pendidikan & Kesehatan
  • Lainnya
    • Foto & Video
    • Lifestyle & Hiburan
    • Olahraga Lampung
    • Pemerintahan & Politik
    • Pendidikan & Kesehatan
No Result
View All Result
Ruwajurainews.com
No Result
View All Result

Pameran “Segala Garis Ruang Imajiner”, Abstrak Bicara Rasa di Era Digital

by Panglima Bumi
April 8, 2026
in Lampung Raya

RUWA JURAI- Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), seni lukis abstrak justru kembali menegaskan satu hal mendasar: kepekaan batin manusia tetap menjadi ruh utama dalam setiap karya.

Dunia seni abstrak memiliki perjalanan panjang yang lahir dari pergulatan batin para seniman. Hal ini tergambar dalam karya perupa seperti Dedih Nur Fajar, yang berlatar belakang film dan fotografi. Pengalamannya dalam dunia visual membentuk cara pandangnya dalam mengolah imaji menjadi karya abstrak.

“Saya menyebutnya imaji yang samar. Ini jadi keseimbangan bagi saya. Guratan lukisan tak mau dibentuk,” ujar Dedih.

Berita Terkait

Fasilitas Baru RSUD Batin Mangunang, Solusi Kesehatan Cepat dan Ekonomis bagi Warga

Ari Pahala Hutabarat: Bahasa Puisi Lebih Dari Sekadar Alat Komunikasi

Melalui medium akrilik yang dipadukan dengan berbagai material, Dedih menciptakan karya yang didominasi warna gelap dengan sapuan ekspresif. Empat karyanya berjudul Katarsis Visual Takut, Katarsis Visual Marah, Katarsis Visual Sedih, dan Katarsis Visual Kecewa menjadi representasi emosi yang kompleks.

Menariknya, proses penciptaan karya tersebut justru dilakukan dalam kondisi emosi yang berlawanan. “Katarsis Visual Sedih misalnya, saya buat justru dalam keadaan bahagia,” ungkapnya.

Bagi Dedih, seni abstrak bukan sekadar ekspresi visual, melainkan respons terhadap realitas kehidupan yang terus berubah, termasuk di era digital yang serba cepat dan instan.

“Perlawanan bisa muncul dari kehidupan kita sekarang yang kompleks. Abstrak adalah respon, bahkan antitesis dari kondisi yang mapan,” tambahnya.

Hal senada juga diungkapkan perupa Guntur Jongmerdeka, yang menghadirkan karya dengan medium campuran dan pendekatan visual yang unik. Dalam karyanya berjudul *Spektrum Semesta*, ia menggunakan bentuk heksagon abstrak yang saling terhubung sebagai simbol jaringan energi alam semesta.

“Garis metalik menjadi penyeimbang visual, sekaligus simbol batas antara realitas dan imajinasi,” jelasnya.

Sementara itu, pelukis sekaligus pengajar Institut Kesenian Jakarta, Dick Syahril, menilai bahwa seni abstrak akan terus berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan esensinya.

“Di tengah perkembangan pasar seni global dan era digital, abstrak tetap dinamis dan terus mencari bentuk serta perannya,” ujarnya.

Respon Global dan Masa Depan Abstrak

Pameran bertajuk Segala Garis Ruang Imajiner yang Terbuka Tegak Lurus dengan Rasa menjadi ruang pertemuan berbagai gagasan seni abstrak kontemporer. Pameran ini digelar di RasaHarsa Coffee Shop & Eatery, Rawamangun, Jakarta, dan dikuratori oleh Saut Mangihut Marpaung.

Dalam pandangan kurator, seni abstrak telah mengalami transformasi besar sejak awal abad ke-20 melalui tokoh-tokoh seperti Wassily Kandinsky, Piet Mondrian, dan Kazimir Malevich. Ketiganya mengubah cara pandang seni dari representasi objek nyata menjadi bentuk yang lebih esensial dan spiritual.

Kini, di era AI dan metaverse, seni abstrak diprediksi akan semakin berkembang ke arah yang lebih interaktif dan imersif. Teknologi memungkinkan karya seni memasuki ruang digital, namun tetap tidak mampu menggantikan satu hal utama: rasa manusia.

“Ke depan, abstrak akan melampaui batas konvensional dan masuk ke ruang digital. Namun, kepekaan batin tetap menjadi fondasi yang tidak tergantikan,” tulis Saut dalam katalog kurasi.

Pameran ini juga diikuti oleh puluhan seniman lain, menjadi bukti bahwa seni abstrak masih memiliki tempat kuat di tengah arus globalisasi dan teknologi.

Pada akhirnya, di tengah kecanggihan AI yang mampu meniru banyak hal, seni abstrak justru mengingatkan bahwa emosi, pengalaman, dan kepekaan batin manusia adalah sumber kreativitas yang paling autentik—dan tak tergantikan.***

Source: ALFARIEZIE
Tags: AI dan SeniDedih Nur FajarGuntur JongmerdekaKurator SeniLukisan AbstrakMetaverse SeniPameran Seni JakartaSeni Abstrakseni kontemporerSeni Rupa Indonesia
ShareTweetSendShare

Search

No Result
View All Result

Recent News

Fasilitas Baru RSUD Batin Mangunang, Solusi Kesehatan Cepat dan Ekonomis bagi Warga

Fasilitas Baru RSUD Batin Mangunang, Solusi Kesehatan Cepat dan Ekonomis bagi Warga

April 8, 2026
Ari Pahala Hutabarat: Bahasa Puisi Lebih Dari Sekadar Alat Komunikasi

Ari Pahala Hutabarat: Bahasa Puisi Lebih Dari Sekadar Alat Komunikasi

April 8, 2026
PWI Pringsewu Tegaskan Pentingnya Kebersamaan dan Kekeluargaan dalam Jurnalistik

PWI Pringsewu Tegaskan Pentingnya Kebersamaan dan Kekeluargaan dalam Jurnalistik

April 8, 2026

Recent News

  • Fasilitas Baru RSUD Batin Mangunang, Solusi Kesehatan Cepat dan Ekonomis bagi Warga
  • Ari Pahala Hutabarat: Bahasa Puisi Lebih Dari Sekadar Alat Komunikasi
  • PWI Pringsewu Tegaskan Pentingnya Kebersamaan dan Kekeluargaan dalam Jurnalistik
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Kontributor
  • Kontak
  • Iklan & Kerjasama

© 2025 - Ruwajurainews.com

No Result
View All Result
  • Budaya & Pariwisata
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hukum & Kriminal
  • Lampung Raya
  • Opini & Suara Publik
  • Pendidikan & Kesehatan
  • Lainnya
    • Foto & Video
    • Lifestyle & Hiburan
    • Olahraga Lampung
    • Pemerintahan & Politik
    • Pendidikan & Kesehatan

© 2025 - Ruwajurainews.com