• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Kontributor
  • Kontak
  • Iklan & Kerjasama
Thursday, March 26, 2026
Ruwajurainews.com
  • Budaya & Pariwisata
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hukum & Kriminal
  • Lampung Raya
  • Opini & Suara Publik
  • Pendidikan & Kesehatan
  • Lainnya
    • Foto & Video
    • Lifestyle & Hiburan
    • Olahraga Lampung
    • Pemerintahan & Politik
    • Pendidikan & Kesehatan
No Result
View All Result
Ruwajurainews.com
No Result
View All Result

Puisi, Kekuasaan, dan SMA Siger: Siapa Menanggung Risiko Kebijakan?

by Panglima Bumi
February 7, 2026
in Lampung Raya

RUWA JURAI- Puisi “Tukang Bunuh Orang” Karya Muhammad Alfariezie menghadirkan kisah sederhana tentang rumah tua yang direnovasi, hujan yang datang tiba-tiba, dan kelalaian teknis yang nyaris berujung maut.

Namun kesederhanaan ini justru membuka ruang tafsir politis yang relevan dengan dinamika kebijakan publik, khususnya dalam konteks pendidikan.

Ketika dibaca berdampingan dengan kebijakan SMA Swasta Siger di Bandar Lampung, puisi ini bekerja sebagai alegori tentang kekuasaan, kepercayaan, dan risiko yang dipindahkan kepada warga.

Berita Terkait

Etika Jadi Kunci, HIMATRA Lampung Dorong Kritik yang Sehat dan Berimbang

Karya Kreatif Indonesia Bawa Pesan Lingkungan ke Thailand

Tukang Bunuh Orang

Itu bocor, rumah tua yang baru
pemiliknya renovasi. Tukangnya
kerja cepat, meski tak selincah
kilat. Mungkin karena selesainya
siang awan mantab terpandang,
jadi ia sama sekali tidak curiga

Tapi kemarau masih jauh. Hanya
satu hari, hujan kemudian datang
sejak siang. Karena sibuk untuk
senang sampai bintang, hanya ia
tampung tetes hujan yang melubangi
plafon dengan baskom cuci tangan

Ketika pulang, dia kaget air keluar
pintu. Karena lepas sepatu,
akhirnya tersetrum sampai hampir
mutung

Untung saya tetangga yang tanggap.
Mendengar bantingan pintu, sekedip
pandang– listrik saya minta padam

2026

Rumah Tua dan Janji Renovasi

Rumah tua dalam puisi dapat dibaca sebagai sistem pendidikan yang telah lama berdiri dengan segala keterbatasannya. Renovasi menandai niat baik: pembaruan, inovasi, dan upaya menjawab kebutuhan zaman. Dalam konteks ini, kebijakan SMA Swasta Siger dapat dipahami sebagai proyek “perbaikan” yang diklaim sebagai solusi—sebuah upaya cepat untuk menambal kekurangan daya tampung atau ketimpangan akses.

Namun puisi ini sejak awal memberi peringatan: renovasi yang dikerjakan terburu-buru, tanpa pengawasan memadai, justru menyisakan kebocoran struktural.

Tukang sebagai Orang Kepercayaan Kebijakan

Figur tukang dalam puisi bukan sekadar pekerja fisik, melainkan simbol pelaksana kebijakan—entah itu tim teknis, konsultan, atau mekanisme administratif yang dipercaya penuh oleh pengambil keputusan. Ia “kerja cepat”, sebuah frasa yang dalam bahasa politik sering dipuji sebagai efisiensi, tetapi dalam puisi ini mengandung ironi: cepat tidak selalu berarti tepat.

Kebijakan pendidikan yang diluncurkan tanpa kesiapan infrastruktur, kejelasan regulasi, atau perlindungan bagi peserta didik dan sekolah swasta, berpotensi menciptakan “plafon bocor”—masalah laten yang baru terasa ketika tekanan datang.

Hujan sebagai Realitas Sosial

Hujan dalam puisi bukan anomali. Ia pasti datang. Dalam kebijakan pendidikan, hujan adalah realitas sosial: keterbatasan ekonomi orang tua, ketimpangan mutu sekolah, kecemasan siswa, dan ketidakpastian masa depan. Puisi ini menegaskan bahwa masalah bukan pada hujannya, melainkan pada sistem yang tidak siap menampungnya.

Ketika kebijakan seperti SMA Swasta Siger diperkenalkan tanpa skema mitigasi yang jelas, risiko tidak hilang—ia hanya dipindahkan. Seperti air yang ditadah baskom, masalah ditahan sementara, bukan diselesaikan.

Sengatan Listrik: Dampak yang Nyaris Mematikan

Pertemuan air dan listrik adalah momen paling politis dalam puisi. Ia melambangkan pertemuan antara kebijakan yang rapuh dan realitas yang keras. Dampaknya tidak abstrak: ia menyengat tubuh, mengejutkan, dan nyaris membunuh.

Dalam konteks pendidikan, “sengatan” ini bisa dibaca sebagai dampak kebijakan terhadap siswa, guru, dan sekolah: kebingungan administratif, beban biaya, hilangnya rasa aman, atau terpinggirkannya sekolah swasta yang tidak siap dijadikan instrumen kebijakan publik tanpa dukungan memadai.
Puisi ini penting karena tidak menggambarkan kematian, melainkan nyaris mati. Sebuah peringatan bahwa bahaya sudah sangat dekat.

Tetangga dan Peran Warga

Bagian akhir puisi menghadirkan “saya tetangga yang tanggap”. Dalam pembacaan politis, tetangga adalah masyarakat: orang tua, guru, pengelola sekolah, dan warga kota yang bersuara. Keselamatan datang bukan dari sistem yang dirancang, melainkan dari intervensi warga yang menyadari bahaya dan bertindak.

Namun kata “untung” mengandung kritik tajam. Keselamatan bergantung pada keberuntungan, bukan jaminan kebijakan. Dalam negara yang sehat, pendidikan tidak boleh bergantung pada “untung-untungan”.

Agitasi Politik yang Sunyi

Puisi “Tukang Bunuh Orang” tidak menyerukan penolakan eksplisit, tetapi mengagitasi kesadaran pembaca: bahwa kebijakan yang tampak baik bisa menjadi berbahaya jika dibangun di atas kepercayaan buta dan kecepatan semu. Dalam kaitannya dengan SMA Swasta Siger, puisi ini mengajak kita bertanya: apakah kebijakan ini benar-benar memperbaiki struktur, atau hanya menambal kebocoran sambil berharap hujan tidak deras?

Sebagai kritik sastra, puisi ini berfungsi sebagai cermin etis bagi kekuasaan lokal. Ia mengingatkan bahwa dalam urusan pendidikan, kelalaian bukan sekadar kesalahan teknis—ia adalah bentuk kekerasan yang paling sunyi.***

Tags: kebijakan publikKritik Kebijakan Pendidikanpendidikan lampungPuisi PolitikSastra dan KekuasaanSMA Siger
ShareTweetSendShare

Search

No Result
View All Result

Recent News

Etika Jadi Kunci, HIMATRA Lampung Dorong Kritik yang Sehat dan Berimbang

Etika Jadi Kunci, HIMATRA Lampung Dorong Kritik yang Sehat dan Berimbang

March 18, 2026
Karya Kreatif Indonesia Bawa Pesan Lingkungan ke Thailand

Karya Kreatif Indonesia Bawa Pesan Lingkungan ke Thailand

March 16, 2026
Empat Pendiri Media Lampung Duduk Sejajar dengan Bos Kompas, Tempo, dan Detik dalam Forum Nasional HAM di Jakarta

Empat Pendiri Media Lampung Duduk Sejajar dengan Bos Kompas, Tempo, dan Detik dalam Forum Nasional HAM di Jakarta

March 13, 2026

Recent News

  • Etika Jadi Kunci, HIMATRA Lampung Dorong Kritik yang Sehat dan Berimbang
  • Karya Kreatif Indonesia Bawa Pesan Lingkungan ke Thailand
  • Empat Pendiri Media Lampung Duduk Sejajar dengan Bos Kompas, Tempo, dan Detik dalam Forum Nasional HAM di Jakarta
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Kontributor
  • Kontak
  • Iklan & Kerjasama

© 2025 - Ruwajurainews.com

No Result
View All Result
  • Budaya & Pariwisata
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hukum & Kriminal
  • Lampung Raya
  • Opini & Suara Publik
  • Pendidikan & Kesehatan
  • Lainnya
    • Foto & Video
    • Lifestyle & Hiburan
    • Olahraga Lampung
    • Pemerintahan & Politik
    • Pendidikan & Kesehatan

© 2025 - Ruwajurainews.com