RUWA JURAI- Puisi Tumbuh Menyelinap di antara Bening dan Keruh karya Muhammad Alfariezie muncul sebagai catatan reflektif tentang warga yang hidup di lorong-lorong kekuasaan. Mereka tidak berada di pusat sorotan, juga tidak sepenuhnya tenggelam, namun tetap berinteraksi dengan sistem yang keras dan praktik yang sering licin. Alfariezie menggunakan bahasa simbolik untuk mengekspresikan kritik sosial yang halus namun tajam, memperlihatkan kehidupan rakyat biasa di tengah struktur politik dan hukum yang kaku.
Dalam puisinya, Alfariezie memperkenalkan simbol batu dan lumpur untuk menggambarkan kondisi negara dan praktik politik. Batu melambangkan struktur, hukum, dan institusi yang kokoh serta sulit digoyahkan. Sementara lumpur adalah praktik yang licin, manipulatif, dan kerap menjerat mereka yang lemah. Subjek puisi berdiri waspada di antara keduanya, bukan untuk menentukan arah, tetapi untuk bertahan dari tekanan yang terus-menerus.
Frasa di antara bening dan keruh menjadi metafora bagi demokrasi kontemporer yang abu-abu. Transparansi diumumkan, namun keputusan dan kebijakan tetap sulit dipahami di tingkat akar rumput. Kebenaran sering dipamerkan, tetapi dampaknya tidak dirasakan oleh masyarakat kecil. Alfariezie tidak menuduh secara langsung, melainkan menyaksikan dan menunjukkan bahwa dalam politik modern, bahaya terbesar bukanlah kebohongan terang-terangan, melainkan kebiasaan menerima ketidakjelasan dan ambiguitas.
Salah satu metafora yang paling menyentuh adalah rumput yang tak pernah berbunga apalagi berbuah, yang menggambarkan rakyat yang bekerja keras namun jarang diakui. Mereka menjadi penyangga, menahan beban keputusan dari atas, dan menerima konsekuensi dari kebijakan yang sering tidak berpihak. Rumput itu tetap hidup dan menampung hujan, yang menjadi simbol kebijakan, krisis, dan keputusan yang datang tanpa bisa dihindari.
Kata menyelinap menekankan strategi bertahan yang dipilih rakyat. Diam bukan berarti setuju, tetapi merupakan cara untuk bertahan hidup dalam sistem yang tidak ramah. Alfariezie menangkap kecerdikan rakyat yang harus belajar bertahan, bukan melawan secara terbuka, yang lahir dari tekanan panjang dan sistematis. Tahun 2025 sebagai penutup puisi menandai era ketika demokrasi berjalan tetapi keadilan sering tertinggal, dan negara hadir tetapi tidak selalu melindungi.
Puisi ini menunjukkan bahwa kritik sosial bisa muncul dari pengamatan sunyi. Alfariezie tidak menunjuk siapa yang bersalah, tidak menyebut nama, dan tidak mengibarkan slogan politik. Ia hanya memperlihatkan bagaimana kehidupan berlangsung di sela sistem, dan dari situ muncul pesan politik yang kuat. Puisi ini mengajarkan bahwa bertahan pun adalah pernyataan politik, bahwa keberanian bisa sunyi, dan perlawanan tidak selalu harus terlihat.
Selain itu, puisi ini juga menjadi pengingat bahwa politik bukan hanya soal kemenangan besar atau pamer kekuatan. Kadang, bertahan dan menjaga eksistensi dalam sistem yang keras sudah menjadi bentuk perlawanan yang paling nyata. Muhammad Alfariezie menulis puisi sebagai medium refleksi kritis, membuka ruang bagi pembaca untuk memahami dinamika kekuasaan dari perspektif mereka yang berada di pinggiran sorotan, dan memperlihatkan bahwa kehidupan sunyi di antara bening dan keruh juga memiliki nilai dan makna politik yang mendalam.***


