RUWA JURAI- Kehadiran John Herdman sebagai pelatih baru Timnas Indonesia bukan sekadar pergantian kursi kepelatihan, melainkan momen transisi emosional bagi publik sepak bola nasional. Ia datang membawa rekam jejak internasional dan ekspektasi prestasi, namun di saat bersamaan harus berhadapan dengan satu hal yang sulit diukur statistik: romantisme yang telah lama terbangun antara Timnas Indonesia dan Shin Tae-yong.
Selama beberapa tahun terakhir, Shin Tae-yong bukan hanya dipandang sebagai pelatih, tetapi juga figur sentral yang membentuk ikatan emosional antara pemain, tim, dan suporter. Ikatan ini tumbuh dari proses panjang, mulai dari kerja keras, disiplin khas Asia Timur, hingga kedekatan personal yang terekam dalam banyak momen di dalam dan luar lapangan. Tak heran, romantisme tersebut bahkan dirasakan oleh para pemain diaspora yang datang dari kultur sepak bola Eropa.
Salah satunya diungkapkan pemain diaspora, Ragnar Oratmangoen, dalam sebuah podcast Ziggo Sport di Belanda. Ia menilai Shin Tae-yong sebagai sosok yang tepat untuk Timnas Indonesia, meskipun memiliki pendekatan yang berbeda dari pelatih Eropa pada umumnya. “Dia berasal dari Asia dan punya cara bekerja yang sangat berbeda dari apa yang biasa kami lakukan, namun saya rasa dia adalah sosok yang tepat untuk tim ini,” ungkap Ragnar.
Romantisme yang dibangun Shin Tae-yong kerap hadir dalam bentuk sederhana, bahkan kocak, namun sarat makna. Interaksi hangat antara pelatih dan pemain, candaan di sela latihan, hingga momen pelukan seusai laga menjadi “bunga halaman rumah” Timnas Indonesia—selalu terlihat, selalu dibicarakan, dan selalu dirindukan. Timnas Garuda tak hanya menjadi sorotan karena hasil pertandingan, tetapi juga karena kisah kebersamaan yang menyertainya.
Fenomena ini bukan hal baru dalam sepak bola dunia. Pelatih dengan karakter kuat sering kali mampu membangun ikatan emosional yang melampaui taktik dan strategi. Jose Mourinho, misalnya, dikenang bukan hanya karena trofi, tetapi juga karena kedekatannya dengan pemain, seperti momen ikonik bersama Marco Materazzi usai Inter Milan menjuarai Liga Champions. Hubungan semacam ini membuat tim terasa “hidup”.
Kini, John Herdman berada di titik awal perjalanan yang penuh tantangan. Publik tentu menanti prestasi, namun diam-diam juga menunggu: apakah romantisme itu bisa tumbuh kembali dalam wajah yang berbeda? Apakah Timnas Indonesia akan kembali menghadirkan cerita-cerita emosional yang menyentuh, baik di lapangan maupun di media sosial?
Waktu akan menjawab. Namun satu hal pasti, warisan emosional Shin Tae-yong masih membekas kuat. Di tengah euforia dan kerinduan itu, John Herdman ditantang bukan hanya untuk menang, tetapi juga untuk membuat Timnas Indonesia kembali dirasakan—bukan sekadar ditonton.***


