• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Kontributor
  • Kontak
  • Iklan & Kerjasama
Sunday, August 30, 2026
Ruwajurainews.com
  • Budaya & Pariwisata
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hukum & Kriminal
  • Lampung Raya
  • Opini & Suara Publik
  • Pendidikan & Kesehatan
  • Lainnya
    • Foto & Video
    • Lifestyle & Hiburan
    • Olahraga Lampung
    • Pemerintahan & Politik
    • Pendidikan & Kesehatan
No Result
View All Result
Ruwajurainews.com
No Result
View All Result

Muhammad Alfariezie, Penyair Muda Bandar Lampung yang Menghadirkan Spirit Kesunyian dan Ketabahan dari “Hujan di Pucuk Bunga Jurang”

by Panglima Bumi
November 6, 2025
in Lampung Raya

RUWA JURAI- Di tengah berkembangnya generasi baru penyair di Indonesia, nama Muhammad Alfariezie mencuri perhatian dengan karya-karya yang bersifat reflektif dan liris. Penyair muda asal Bandar Lampung ini menulis dengan keheningan dan kesederhanaan diksi, namun justru dari kesederhanaan itulah muncul kedalaman makna yang menyentuh.

Melalui puisi terbarunya berjudul “Hujan di Pucuk Bunga Jurang,” Alfariezie menghadirkan lanskap visual yang alami namun sarat simbol. Puisinya bukan hanya sekadar gambaran alam, melainkan ruang kontemplasi tentang keberanian, ketabahan, dan kemampuan manusia untuk menemukan keindahan meski berada di batas keterasingan.

Puisi:

Berita Terkait

Tokoh Pemuda Way Kanan Minta DPRD dan PGK Selesaikan Polemik Lewat Dialog

Jamaludin Ungkap Keluhan Kepala Sekolah Swasta: MKKS Disebut Hanya Minta Sumbangan

Hujan di Pucuk Bunga Jurang

Bunga berduri pinggir jurang
berteman hujan. Warnanya
merah berkaca bening: segar

Kupu-kupu enggak pernah alpa
sampai ke pucuknya hingga
tumbuh melulu pemandangan
pinggir jurang

Siapa yang tak betah berminggu
bertenda walau awan masih berat
membuka tirainya

Gerak lugu bunga pinggir jurang
refleksi nanti yang tidak akan
pernah sedih

2025

Dalam puisi ini, bunga yang tumbuh di tepi jurang menjadi metafora yang sangat kuat. Ia melambangkan keberanian hidup dalam kondisi yang rapuh, berbahaya, namun tetap penuh warna. Bunga tersebut bukan tumbuhan biasa di taman yang aman. Ia berada di tempat yang ekstrem, namun justru di situlah ia menemukan kehidupannya sendiri.

Hujan yang hadir berulang kali dalam puisi ini membawa citra kesucian dan penyembuhan. Sementara kupu-kupu yang “enggak pernah alpa” menjadi simbol harapan yang terus kembali, menyiratkan bahwa keindahan tidak pernah benar-benar pergi.

Struktur puisi yang bebas tanpa tanda baca yang dominan membuat ritme larik-lariknya mengalir seperti gerimis tipis. Pembaca tidak dipaksa untuk berhenti, tetapi diberi ruang untuk merenung di sela setiap jeda alami kata.

Dari sisi tema, puisi ini berbicara tentang ketabahan dalam kesendirian. Si aku lirik “betah berminggu bertenda” meski awan masih berat, menunjukkan penerimaan terhadap proses menunggu, tumbuh, dan menyatu dengan alam. Tidak ada penghakiman, hanya perenungan yang lembut.

Larik penutup menjadi inti rasa puisi:

Gerak lugu bunga pinggir jurang
refleksi nanti yang tidak akan
pernah sedih

Di sini, kesederhanaan menjadi jawaban dari pencarian makna. Ketulusan dalam hidup bukan muncul di tempat yang aman, tetapi di tempat yang terus menguji kemampuan manusia untuk bertahan. Dari tepi jurang lahir ketenangan.

Estetika puisi Alfariezie tidak berusaha memukau dengan bahasa rumit. Justru penggunaan kata sehari-hari membuat pesan hadir lebih dekat, lebih hangat, dan lebih jujur. Ia memadukan citraan visual (awan, jurang, bunga, kupu-kupu) dengan citraan rasa (sunyi, lega, ketabahan) hingga tercipta suasana hening yang membawa pembaca seolah sedang berdiri di tepi bukit saat hujan mulai turun perlahan.

Dengan karya-karya seperti ini, Muhammad Alfariezie menunjukkan bahwa generasi penyair muda Indonesia tidak hanya mengejar gaya, tetapi juga kedalaman.

Ia menghadirkan puisi sebagai ruang perenungan: sederhana dalam kata, luas dalam makna. Sebuah ajakan untuk melihat bahwa hidup bisa tumbuh bahkan di tepi jurang, selama masih ada hujan yang turun dan harapan yang setia datang kembali.***

Source: ALFARIEZIE
Tags: HujanDiPucukBungaJurangKaryaSastraIndonesiaMuhammadAlfarieziePenyairMudaPuisiKontemporerSastraLampung
ShareTweetSendShare

Search

No Result
View All Result

Recent News

Pendidikan Vokasi Makin Relevan, SMK Tuma’ninah Yasin Metro Dekatkan Siswa dengan Dunia Industri

Pendidikan Vokasi Makin Relevan, SMK Tuma’ninah Yasin Metro Dekatkan Siswa dengan Dunia Industri

August 29, 2026
16 SMK Swasta Kota Metro Siapkan Strategi Baru Hadapi Persaingan Pendidikan

16 SMK Swasta Kota Metro Siapkan Strategi Baru Hadapi Persaingan Pendidikan

August 28, 2026
Tokoh Pemuda Way Kanan Minta DPRD dan PGK Selesaikan Polemik Lewat Dialog

Tokoh Pemuda Way Kanan Minta DPRD dan PGK Selesaikan Polemik Lewat Dialog

August 26, 2026

Recent News

  • Pendidikan Vokasi Makin Relevan, SMK Tuma’ninah Yasin Metro Dekatkan Siswa dengan Dunia Industri
  • 16 SMK Swasta Kota Metro Siapkan Strategi Baru Hadapi Persaingan Pendidikan
  • Tokoh Pemuda Way Kanan Minta DPRD dan PGK Selesaikan Polemik Lewat Dialog
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Kontributor
  • Kontak
  • Iklan & Kerjasama

© 2025 - Ruwajurainews.com

No Result
View All Result
  • Budaya & Pariwisata
  • Ekonomi & Bisnis
  • Hukum & Kriminal
  • Lampung Raya
  • Opini & Suara Publik
  • Pendidikan & Kesehatan
  • Lainnya
    • Foto & Video
    • Lifestyle & Hiburan
    • Olahraga Lampung
    • Pemerintahan & Politik
    • Pendidikan & Kesehatan

© 2025 - Ruwajurainews.com