RUWA JURAI- Oknum tak bertanggung jawab yang diduga merupakan elit intelektual nasional masih terus melancarkan serangan intimidasi psikologis ke Perusahaan Pers Djadin Media Grup hingga Rabu, 15 April 2026.
Pimpinan grup perusahaan pers tersebut, Arief Mulyadin mengungkap— setelah serangan DDoS tak mampu melemahkan gerilya-gerilya jurnalistik timnya, tindakan intimidasi psikologis kemudian beralih ke terror paket misterius berisi Ikan Lele dan Cosplay Anime Jepang.
“Kemarin DDoS tak efektif kemudian beralih ke serangan paket misterius, yang semakin mengindikasikan serangan intimidasi,” ujarnya pada Rabu, 15 Maret 2026.
Dari 9 paket ikan Lele hidup dan 6 paket costum anime Jepang itu, menurutnya– tersirat ancaman “Mau Coba Silahkan Kalau Punya Nyali.”
“Filosofinya itu Lele, Lele Hidup. Istilahnya lu ini udah hebat tah, apa lu mau sok hebat? Apa lu mau jadi tokoh, ini gua kasih baju pahlawannya, tapi jangan sampe nanti lu nyesel lu nanti kena patil,” ungkapnya.
Melihat intensitas serangan intimidasi psikologis yang tiada henti ini, ada kemungkinan teror akan berlanjut ke upaya-upaya fisik guna meruntuhkan mental jurnalistik yang berlandaskan amanah peraturan perundang-undangan.
“Kemarin serangan DDOS kurang efektif, kemudian dilanjutkan dengan Teror Paket. Tidak menutup kemungkinan ke depan Teror Fisik akan dilakukan karena Teror Paket dirasa kurang mempan.”
Namun tindakan teror itu tak membuat pimpinan Djadin Media Grup bergeming untuk tetap kritis atas kebijakan yang bertentangan dengan sumpah dan janji jabatan pejabat negara.
“Meskipun ada kemungkinan dilakukan Teror Fisik kepada saya maupun Tim dan Media kami, kami tidak gentar. Karena kebebasan pers dijamin undang undang.”
Ia pun mengaku tak segan akan membawa kasus teror dari ini kepada APH, Menteri HAM dan langsung membawanya ke Presiden Prabowo Subianto, mengingat kasus teror dengan paket kepala Babi telah menyasar kantor Tempo dan Andrie Yunus harus menjadi korban penyiraman air keras.
“Jika peneror masih melakukan aksi terornya, kami akan laporkan ini kepada APH, Menteri HAM, bahkan mungkin kita laporkan juga kepada Bapak Prabowo.”
“Sudah cukup Andri Yunus yang terakhir mendapatkan Teror dari aparat. Jika tidak maka demokrasi di Indonesia akan hancur dan Indonesia akan menjadi negara anarkis dan otoriter.”
Tindakan tak bertanggung jawab ini justru bukan mengganggu kerja-kerja jurnalistik tim Arief Mulyadin, melainkan meresahkan sejumlah kurir paket.
Setiap hari, kurir paket itu datang ke kantor Djadin Media Grup dengan ongkos yang tidak sedikit namun tanpa hasil karena paket COD dari oknum yang diduga merupakan elit intelek politik tanah air.
“Memilukan, enggak kasihan apa mereka dengan kurir paket. Bolak-balik ke sini tapi tidak ada yang bayar. Ini tindakan yang sangat memalukan dari intelektual kita,” ungkapnya.
Arief pun telah meminta kurir paket memblokir semua pesanan COD atas namanya.
“Saat ini kami sudah minta kurir paket untuk memblokir semua pesanan COD atas nama saya.”***


