RUWA JURAI- Anjloknya rupiah terhadap dollar ke titik terendah hingga ke level Rp 17.584 pada Minggu, 24 Mei 2026 tentu bukan hanya Prabowo Subianto yang menjadi perhatian, tapi Menteri Keuangan Purbawa Sadhewa yang masih bisa tersenyum.
Gebrakan awalnya saat menggantikan Sri Mulyani sempat menghebohkan kekaguman masyarakat.
Eks Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamim Simpanan (LPS) itu menggelontorkan Rp 300 Triliun ke bank-bank himbara yang bertujuan menunjang ekonomi masyarakat Indonesia.
Ia pun terus memerlihatkan berbagai hentakan sebagai pemikat awal kedatangan dalam panggung bernama pemerintahan. Beberapa di antaranya, hendak memberantas mafia impor baju bekas, rokok ilegal hingga mengatakan Fir’aun atas naiknya cukai rokok sehingga publik menganggapnya bak Perdana Menteri andalan Raja yang akan mudah memperkuat dan menjaga ekonomi serta keuangan negara dari pengaruh global maupun tekanan nasional.
Namun, sekarang-sekarang ini, terhitung sejak Presiden Prabowo melantiknya pada 8 September 2025, ternyata Purbaya Sadhewa bukan superhero bagi Rezim Gemoy gemar berjoget ria saat kampanye.
Purbaya tak mampu menahan laju defisit APBN mencapai 164,4 triliun pada April 2026 sehingga banyak pemerintah daerah yang mengeluh untuk terus efisiensi. Imbasnya, tentu saja terhadap para mitra atau rekanan yang sangat-sangat mempengaruhi ekonomi dan daya rakyat.
Kemudian Purbaya pun belum mampu menghentikan Indonesia terhadap ketergantungan utang luar negeri.
Data terbaru Bank Indonesia mencatat utang luar negeri (ULN) Indonesia mencapai US$437,9 miliar atau setara Rp7.750 triliun pada Februari 2026. Namun angka tersebut mencakup utang pemerintah, bank sentral, dan sektor swasta. Posisi ULN pemerintah sendiri tercatat sekitar US$215,9 miliar, tumbuh sekitar 5,5% secara tahunan (year-on-year).
Total utang pemerintah sendiri hingga Maret 2026 mencapai Rp9.920,42 triliun yang disebut-sebut nyaris menyentuh 10.000 ribu triliun.
Angka utang pemerintah itu sendiri pun naik dibanding akhir 2025 sebesar Rp9.637,9 triliun.
Kenaikan ini terjadi di tengah kebutuhan pembiayaan pembangunan, defisit APBN, serta tekanan ekonomi global.
Kemudian yang enggak kalah mencengangkan dari kerja Purbaya yang sebelumnya publik anggap sebagai Menteri Superhero penjaga keuangan dan ekonomi Indonesia, ialah– kementeriannya meloloskan anggaran BGN yang di luar nalar dan keperluan. Seperti pembelian motor listrik untuk kepala SPPG dan Semir Sepatu serta Kaus Kaki. ***


